Monday, 25 October 2021
Select Page

Apa sih Merkuri itu (Mercury)?? Mungkin sebagian orang awam belum mengetahui benda apa itu. Tapi bagi orang terpelajar mungkin sudah tidak asing lagi mendengar nama tersebut. Nama tersebut populer mendunia diantaranya karena tragedi Minamata. Minamata adalah nama sebuah teluk yang terletak di kota Minamata, Kumamoto Perfecture, Jepang. Tragedi ini tejadi pada tahun 1953. Penduduk Teluk Minamata, mengkonsumsi ikan yang sudah tercemar Metil merkuri (Methyl mercury), limbah yang dikeluarkan oleh pabrik baterai Chisso corp. Penduduk mengalami kerusakan saraf dan organ lainnya. PT. Chisso didirikan pada tahun 1908 dan mengalami perkembangan pada tahun 1930an. Dalam perkembangannya perusahaan tersebut menghasilkan limbah merkuri yang mencemari perairan laut di teluk Minamata, dimana penduduk di daerah tersebut banyak mengkonsumsi ikan dari teluk tersebut.

Kasus Merkuri lainnya yang pernah terjadi adalah di di Irak sekitar tahun 1960-an dan 1970-an yang meracuni 6.500 orang dan lebih dari 450 orang meninggal dunia. Kasus ini terjadi akibat penduduk memakan roti yang gandumnya diimpor dari Meksiko. Gandum tersebut diawetkan dengan menggunakan fungisida yang mengandung Metil merkuri (Methyl mercury). Gandum tersebut tadinya akan digunakan sebagai bibit. Sebenarnya gandum tersebut telah diberi label peringatan namun menggunakan bahasa Spanyol yang tidak dimengerti oleh penduduk Irak. Disamping itu juga gandum tersebut telah diberi warna merah yang merupakan indikator bahwa gandum tersebut telah diberi Metil merkuri. Namun warna tersebut hilang pada saat dicuci dengan air.

Merkuri di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2001 tentang Bahan Berbahaya dan Beracun termasuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dengan karakteristik beracun, karsinogenik dan berbahaya bagi lingkungan.

Karakteristik beracun adalah B3 yang bersifat racun bagi manusia yang akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.  Merkuri termasuk kategori sangat beracun berdasarkan uji pada rat dengan LD50 sebesar 37 mg/kg yang disimbolkan dengan gambar tengkorak sebagaimana di atas. Gambar urutan berikutnya merupakan simbol dari karakteristik karsinogenik. Karsinogenik adalah B3 dengan sifat bahan penyebab sel kanker, yakni sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh. Sedangkan gambar simbol yang ada gambar ikannya merupakan karakteristik berbahaya bagi lingkungan, karena bahan tersebut dapat merusak lingkungan terutama di lingkungan perairan.

Merkuri atau Raksa (dalam bahasa Latinnya Hydrargyrum, air/cairan perak) merupakan salah satu unsur kimia yang pada tabel periodik mempunyai simbol Hg dan nomor atom 80.

Unsur golongan logam transisi ini merupakan logam yang ada secara alami, satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Oleh karena itu merkuri/raksa sering disebut sebagai air raksa. Raksa merupakan logam yang sangat berat. Logam murninya berwarna keperakan berupa cairan tak berbau dan mengkilap. Bila dipanaskan sampai suhu 357oC air raksa akan menguap. Unsur golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap. Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Kelimpahan Hg di bumi menempati di urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi.

Di alam, merkuri (Hg) ditemukan dalam bentuk unsur merkuri (Hg0), merkuri monovalen (Hg1+), dan bivalen (Hg2+). Raksa merupakan penghantar kalor yang buruk dibandingkan logam lain.  Unsur ini mudah membentuk campuran logam dengan logam-logam yang lain seperti emas, perak, dan timah (disebut juga amalgam). Merkuri termasuk logam berat sebagaimana Perak (Ag), Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd). Densitasnya yang tinggi menyebabkan benda-benda seperti bola biliar menjadi terapung jika diletakkan di dalam cairan raksa hanya dengan 20% volumenya terendam.

 

Merkuri digunakan pada peralatan termometer, barometer, pompa difusi, lampu uap merkuri, sakelar merkuri, dan alat-alat elektronik lainnya. Merkuri juga dapat digunakan dalam kosmetik, pestisida, industri soda kaustik, produksi gas khlor, gigi buatan (bahan amalgam gigi), baterai, sebagai katalis, dan di pertambangan emas. Limbah emisi merkuri dapat dihasilkan dari pembangkit listrik maupun industri semen yang menggunakan proses pembakaran dengan batubara.

Amalgam yang digunakan di bidang kedokteran gigi disebut dental amalgam yaitu suatu campuran air raksa (Hg) dengan satu atau lebih logam lain yaitu perak (Ag), timah (Sn), tembaga (Cu) dan sejumlah kecil seng (Zn). Gabungan sejumlah logam ini disebut alloy dental amalgam.

Raksa merupakan unsur kimia yang sukar mengalami proses pelapukan baik secara fisika, kimia maupun biologi (tahan urai). Di lingkungan, walaupun kadarnya rendah, dapat diabsorbsi dan terakumulasi melalui proses biologi (melalui rantai makanan). Proses perjalanan merkuri ke dalam tubuh manusia (pathway) bisa dari media air, udara, maupun tanah. Selanjutnya bisa juga dari hewan atau tumbuhan yang sudah tercemar Merkuri.

Masuknya Merkuri ke tubuh manusia (portal entri) dapat melalui jalur mulut/pencernaan (oral/ingestion), pernafasan (inhalation), kontak kulit (dermal),  atau melalui rekayasa manusia sendiri yaitu melalui suntikan, dapat berupa suntikan intravena, maupun intramuscular.  

Apabila masuk ke dalam perairan, merkuri mudah ber-ikatan dengan klor yang ada dalam air laut dan membentuk ikatan HgCl. Dalam bentuk ini, Hg mudah masuk ke dalam plankton dan bisa berpindah ke biota laut lain. Merkuri anorganik (HgCl) akan berubah menjadi merkuri organik (Metil merkuri) oleh peran mikroorganisme yang terjadi pada sedimen dasar perairan. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan karbon membentuk senyawa organo-merkuri. Senyawa organo-merkuri yang paling umum adalah Metil merkuri yang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam air dan tanah. Mikroorganisme kemudian termakan oleh ikan sehingga konsentrasi merkuri dalam ikan meningkat. Metil merkuri memiliki kelarutan tinggi dalam tubuh hewan air sehingga Hg terakumulasi melalui proses bioakumulasi (bioaccumulation) dan biomagnifikasi (biomagnification) dalam jaringan tubuh hewan air, dikarenakan pengambilan Hg oleh organisme air yang lebih cepat dibandingkan proses ekskresi.

Pemajanan merkuri ke dalam tubuh manusia akan dibawa oleh darah, didistrusikan ke seluruh tubuh. Pada keracunan neurotoksik akan dibawa menuju otak. Merkuri akan ditimbun pada jaringan lemak, kulit, organ tubuh paru-paru, jantung, ginjal dan janin.  Akumulasi Hg dalam tubuh dapat menyebabkan tremor, parkinson, gangguan lensa mata berwarna abu-abu, serta anemia ringan, dilanjutkan dengan gangguan susunan syaraf yang sangat peka terhadap Hg dengan gejala pertama adalah parestesia, ataksia, disartria, ketulian, dan akhirnya kematian. Wanita hamil yang terpapar alkil merkuri bisa menyebabkan kerusakan pada otak janin sehingga mengakibatkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak janin lebih rentan terhadap metil merkuri dibandingkan dengan otak dewasa.

Permasalahan Merkuri terhadap lingkungan di Indonesia banyak berasal dari pertambangan emas skala kecil (ASGM/Artisanal Small Scale Gold Mining), atau dikenal dengan istilah PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin). Kegiatan pertambangan ini menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dari batuan dengan menggunakan proses yang mengasilkan amalgam. Ada beberapa titik (hot spot) yang tersebar di Indonesia. Kegiatan ini dapat menyebabkan paparan merkuri yang terdapat di perairan, sedimen, biota bahkan manusia.

Hasil pemantauan KLH tahun 2012 di beberapa wilayah menunjukkan adanya paparan Merkuri di lingkungan, bahkan di manusia sebagai berikut:

  • Hasil pemantauan benthos di kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Propinsi. Banten pada kisaran 1,9 – 5,1 mg/kg (Provisional standar s for mercury in Fish 0,4 mg/kg (Notification for Ministry of Health and Welfare, Japan in July of 1973), sedimen sungai 1-6 mg/kg (0,13 Canadian Sediment Quality Guidelines for Threshold Effect Level /TEL), ada yg mengalami gangguan neuropsikiatrik (6 dari 50 sample dengan kadar merkuri tinggi di urin).
  • Merkuri di rambut ada yang sampai 132 ppm (batas normal sampai 10 ppm),di Kecamatan Krueng Sabee, Propinsi Aceh.
  • Merkuri di ikan (Fish tissue) di Sungai Kahayan, Kabupaten Gunung Mas, Kalteng sebesar 1,1 mg/kg ( standar 0,4 mg/kg )
  • Sedimen aliran Sungai Batanghari, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumbar melebihi baku mutu Canadian Sediment Quality Guidelines for Threshold Effect Level (TEL)

 

Permasalahan lingkungan Merkuri lainnya adalah penambangan Batu Cinnabar (HgS). Ciri khas batu ini yaitu batu kristal berwarna merah menyala. Karena warnanya ini, kristal ini juga disebut sebagai ‘darah naga’ atau ‘mercury sulfide’. Terbentuknya Cinnabar karena aktifitas gunung berapi dan mengandung kadar merkuri yang tinggi. Kadar Merkuri dapat mencapai 80%. Penambangan Batu Cinnabar terdapat di daerah Maluku, Sumatera Barat dan Aceh.

Proses pengolahan hasil penambangan Batu Cinnabar dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Bahan baku Batu Cinnabar dihaluskan/ditumbuk lalu dimasukkan ke dalam tabung. Kemudian ke dalam tabung tersebut ditambahkan kapur (sebagai katalis) dan paku besi (sebagai penghantar kalor).
  • Tabung yang telah berisi semua bahan dibakar dalam tungku dengan bahan bakar kayu. Reaksi kimia yang terjadi pada proses ini adalah sebagai berikut:
    • HgS (s) + O2 (g) ®  Hg (g) + SO2 (g)
  • Proses tersebut menghasilkan uap merkuri yang akan mengembun saat melalui pipa besi. Sementara itu uap Sulfur Dioksida lepas ke udara. Uap merkuri yang mengembun ditampung dalam jerigen yang berisi air. Proses pembakaran ini menghasilkan residu yang berbentuk padat.
  • Merkuri yang ada di dalam jerigen dipisahkan dari air, kemudian dikemas dalam tabung/jerigen besi berukuran ± 25 kg. Pengemasan merkuri dilakukan secara manual setelah dilakukan pemisahan merkuri dengan air.

 

 

Dikutip dari berbagai sumber :

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
  2. Choirul Hadi, Merkuri di Lingkungan Kita, Jurnal Skala Husada Volume 10 Nomor 2 September 2013 : 175 – 183.
  3. Dampak Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Modul Diklat, Pusdiklat KLH, 2012.
  4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kajian Dampak Penggunaan Merkuri (Hg) terhadap Kesehatan dan Lingkungan di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 2015
  5. Kementerian Lingkungan Hidup, Pemantauan Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat, 2014
  6. Kementerian Lingkungan Hidup, Pemantauan Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil di Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Propinsi Aceh, 2014.
  7. Kementerian Lingkungan Hidup, Pemantauan Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil di Daerah Aliran Sungai Batanghari, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumatera Barat, 2014.
  8. Kementerian Lingkungan Hidup, Pemantauan Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil di Daerah Aliran Sungai Kahayan, Kabupaten Gunung Mas, Propinsi Kalimantan Tengah, 2014.
  9. Safety Data Sheet Mercury (Metallic), Revision Date 05/01/2015, WM Mercury Waste Inc. 21211Durand Avenue, Union Grove 53182
  10. Mercury in Glass Thermometer Data Sheet, , According to 29 CFR 1910:1200 and GHS Rev.3, Effective date May, 29, 2015, Miller & Weber, Inc., 1637 George Street, Ridgewood, NY
  11. http://thewatubudhug.blogspot.co.id/2015/06/7-jenis-batu-yang-tidak-boleh-di.html, Jumat 26 Juni 2015
  12. https://www.kaskus.co.id/thread/51d2437e20cb17381d000008/mercury-bahaya-dan-kegunaan/, 2 Juli 2013

 

 

Pin It on Pinterest